Sabtu, 19 Maret 2016

Observasi Kemacetan Yang Terjadi Di Dalam Kota Depok




Disini saya akan mencoba menjabarkan tentang opini saya tentang kemacetan yang terjadi di kota Depok.  Jalan Margonda Raya memiliki fungsi jalan kolektor primer dengan panjang jalan 4.895 km, volume lalu lintas Jalan Margonda Raya paling tinggi dibandingkan jalan lainnya dikota Depok terutama pada jam sibuk dikisaran waktu 07.00-08.00 dengan jenis kendaraan sedan dan sepeda motor.. Batasan yang diambil yaitu Bundaran UI sampai pertigaan jalan Margonda Raya-jalan Ir.H.Juanda dengan lokasi survey depan kampus D Universitas Gunadarma, pertigaan jalan Margonda Raya-jalan Ir.H.Juanda sampai pertigaan jalan Margonda Raya-Jalan Arief Raman Hakim dengan lokasi survey depan mall Depok, pertigaan jalan Margonda Raya-Jalan Arief Rahman Hakim sampai pertigaan jalan Margonda Raya-Depok II-Bojong Gede. Data yang diambil pada waktu survey adalah data volume kendaraan, pejalan kaki dan waktu berhenti kendaraan. Berdasarkan analisa didapatkan kinerja jalan Margonda Raya termasuk dalam tingkatan yang D pada saat volume lalu lintas maksimum yaitu “Arus mendekati tidak stabil kecepatan masih dapat dikendalikan V/C masih dapat ditolerir” dan volume maksimum yang didapat pada waktu survey adalah pada hari senin setiap segmennya. Solusi yang didapat yaitu ditutupnya median jalan dengan pagar agar pejalan kaki tidak menyebrang sembarangan (dibuat jembatan penyembrangan orang), dibuat halte pemberhentian dan dibuat juga storage (tempat pemberhentian angkot).
Jalan Margonda Raya merupakan akses utama dari dan kekota Jakarta serta pintu gerbang menuju Kota Depok. Luas kawasan perencanaan yaitu 40, kawasan perencanaan merupakan pusat utama Kota Depok dengan fungsi utama sebagai pusat perdagangan dan kawasan ini juga dilalui oleh jalur regional Jalan Raya Bogor- Jalan Jagorawi dan sistem tranportasi kereta api Jakarta-Depok-Bogor. Dengan faktor keuntungan lokasional menjadikan kawasan ini mempunyai posisi yang cukup strategis dan berakses tinggi. Adapun tata guna lahan yang ada di sekitar lokasi Jalan Margonda Raya bervariasi mulai dari perdagangan, pendidikan, jasa, perkantoran sampai dengan pedagang kaki lima sehingga menjadikan daerah Jalan Margonda Raya menjadi pusat orientasi pergerakan masyarakat baik dalam kota Depok sendiri maupun dari luar kota Depok. Karena yang menjadi pusat orientasi dan berdekatan dengan lokasi terminal antar kota yang cukup besar dan menimbulkan kemacetan di beberapa ruas jalan seperti pada Jalan Margonda Raya dan Jalan Nusantara. Ditambah lagi Jalan Margonda Raya lokasinya berdekatan dengan pusat perdagangan (Mall) dan sarana pendidikan.
PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

1. Keadaan Lalu Lintas Kota Depok
Perkembangan kota Depok sekarang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Jakarta, di mana Depok telah menjadi salah satu kota penyangga di samping Bogor, Tangerang dan Bekasi. Memang ada pola tersendiri dari Depok, semenjak tahun 1990-an Depok berkembang pesat dengan penambahan penduduk yang mencolok. Terutama dengan hadirnya beberapa universitas seperti Universitas Indonesia, Universitas Gunadarma, dan perguruan tinggi lainnya. Sementara perkembangan ekonomi lain seperti perdagangan turut mengikuti perkembangan kemajuan Depok menuju kota mandiri.
Dengan perkembangan-perkembangannya ini, maka wajar kalau keadaan lalu lintas di kota Depok menjadi semakin ruwet. Apalagi ditambah dengan kurangnya prasarana, tata ruang, dan kesadaran dari para pengguna jalan. Maka pemerintah akan semakin sulit dalam menangani masalah transportasi di kota Depok ini.

 Penyebab – Penyebab Kemacetan di Kota Depok
Ada banyak hal yang menyebabkan kemacetan di wilayah kota Depok, terutama pada jalan Margonda Raya. Penyebab-penyebab tersebut yaitu :
a) Pertambahan jumlah penduduk yang tidak dapat diimbangi dengan pengoptimalan prasarana dalam pemenuhan kebutuhannya. Jumlah penduduk kota Depok pada tahun 2005 sudah mencapai 1.374.522 jiwa. Sedangkan luas wilayah hanya 200,29 km2, maka dapat kita tentukan bahwa kepadatan penduduk kota Depok adalah 6.863 jiwa/km2 (tabel 1). Tingkat kepadatan penduduk ini sudah dapat digolongkan pada kategori padat, apalagi jika dikaitkan dengan penyebaran penduduk yang tidak merata. Pada tahun 1999 jumlah penduduk kota Depok masih dibawah 1 juta jiwa dan dalam kurun waktu 5 tahun (2000 – 2005) penduduk kota Depok sudah berjumlah 1.374.522 jiwa atau mengalami peningkatan sebesar 447.993 jiwa. Sehingga perkembangan rata-rata penduduk kota Depok adalah 4,23 % per tahun. Bila pertambahan penduduk ini tidak diimbangi dengan pengoptimalan prasarana (jalan) yang baik, maka daerah di sekitar depok , terutama Margonda bisa saja mengalami macet berkepanjangan seperti yang kini kita rasakan.

b) Pertambahan jumlah kendaraan, baik yang dimiliki oleh penduduk kota Depok atau pun yang melintas di kota Depok. Dari tabel 2 kita dapat melihat jumlah kendaraan bermotor yang dimiliki oleh penduduk kota Depok adalah sekitar 12.514 buah, yang didominasi oleh sepeda motor dengan jumlah 10.451 buah. Ini menunjukkan bahwa sudah banyak penduduk kota Depok yang lebih memilih menggunakan sepeda motor sebagai kendaraannya dalam mencapai lokasi yang diinginkan. Dengan bertambahnya jumlah kendaraan yang digunakan berarti kapasitas jalanpun menjadi lebih kecil, dan dampak kemacetan akan semakin terasa.

c) Pertambahan armada angkot yang tidak terkendali. Saat ini jumlah angkot dalam kota Depok yang sudah terdata ada sekitar 2.871 buah angkot (tabel 3). Jumlah ini sudah termasuk terlalu banyak bagi kota yang memiliki luas 200,29 km2. Terbukti dari jumlah penumpang yang di angkut, ada banyak angkot yang hanya mengangkut satu dua penumpang saja dalam operasinya. Hal ini sangatlah tidak efektif, karena selain pemborosan dalam hal energi (bensin), juga berpengaruh pada kapasitas jalan yang semakin kecil.

d) Kurangnya sarana penyeberangan. Contohnya adalah jembatan penyeberangan. Hingga saat ini di kota Depok hanya terdapat dua jembatan penyeberangan, yakni yang terdapat di depan Detos – Margo dan di depan Plaza Depok – Terminal Depok. Jumlah jembatan ini tidak sebanding dengan mall - mall dan jumlah universitas – universitas yang menjamur di wilayah Depok, misalnya saja di Depok Town Square atau Margo City , di depan ITC Depok, Mall Depok, Universitas Gunadarma dan lain sebagainya. Sehingga mereka para pejalan kaki, tidak ada pilihan lain kecuali harus melintas di ruas jalan Margonda Raya

e) Kurangnya kesadaran pengendara dalam menanggapi peraturan lalu lintas. Peraturan lalu lintas diciptakan bukanlah untuk dilanggar, melainkan untuk mengatur aktivitas lalu lintas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hingga saat ini masih terdapat banyak pengguna jalan yang melanggar peraturan lalu lintas ini. Pelanggaran biasa dilakukan oleh para pengendara yang menggunakan moda sepeda motor, mobil pribadi, dan yang tidak asing lagi yaitu angkot. Biasanya pelanggaran ini dilakukan karena adanya keterbatasan waktu dan faktor ekonomi. Misalnya pada angkot, masih saja ada beberapa supir angkot yang mengendarai angkotnya secara zig-zag dengan kecepatan tinggi hingga melewati marka jalan. Padahal, dipundaknya bersandar nasib puluhan penumpang, bahkan bisa jadi puluhan nyawa pengguna jalan yang lain. Dalam keadaan ini kesadaran akan keselamatan sesama pengguna jalan seperti tergadaikan oleh kepentingan materialisme sesaat. Ketidaktertiban yang berujung kecelakaan nantinya akan menimbulkan suatu dampak    yang besar pada arus lalu lintas. Mulai dari rusaknya prasarana yang tersedia sehingga dapat menimbulkan kemacetan dan bahkan hingga hilangnya nyawa.

f) Kurangnya sistem drainase di setiap sisi jalan. Sistem drainase yang tidak baik akan menyebabkan banjir dan menghalangi laju kendaraan. Sehingga kemungkinan terjadinya kemacetan akan semakin besar.

g) Terlalu banyaknya kemudahan yang diberikan dalam pembelian/pengkreditan kendaraan bermotor. Berbagai promosi dan tawaran-tawaran lainnya serta kemudahan dalam pengkreditan kendaraan bermotor akan memancing banyak masyarakat untuk lebih tertarik memiliki kendaraan pribadi. Berarti dengan menambahnya jumlah kendaraan pribadi yang digunakan, maka kapasitas jalan yang ada akan semakin kecil.
3. Kerugian yang Ditimbulkan oleh Kemacetan di Kota Depok
Suatu perkembangan sudah pasti tidak akan lepas dari dampak negatif yang akan ditimbulkan. Dalam perkembangan kota Depok sebagai daerah sub-urban, kemacetan yang terjadi ternyata telah menimbulkan kerugian sebesar Rp 10 milyar per tahun. Itu terjadi karena persentase jalan di Depok baru mencapai tiga persen dari total area kota Depok. Sehingga terjadi konsentrasi kemacetan di jalan Margonda. Saat ini total panjang jalan di Depok sekitar 503 kilometer. Tapi jumlah itu belum termasuk jalan lingkungan. Idealnya persentase luas jalan dari suatu kota adalah dua puluh persen dari total luas wilayah sebuah kota.
Berdasarkan pernyataan di atas berarti jalan Margonda memang seharusnya dilebarkan, tapi tanggung jawab pelebaran jalan itu menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sebab jalan Margonda merupakan jalan provinsi.

Volume Lalu Lintas
Volume lalu lintas menunjukan jumlah kendaraan yang melintasi satu titik pengamatan dalam satu satuan waktu (hari, jam, menit). Volume lalu lintas adalah banyaknya kendaraan yang melewati suatu titik atau garis tertentu


Sedangkan menurut laporan survey lalu lintas 2003 Dinas Perhubungan DKI JAKARTA, kapasitas jalan adalah arus lalu lintas (mantap) maksimum yang melintasi suatu penampang ruas jalan yang dapat dipertahankan per satuan jam dalam kondisi tertentu (geometrik, komposisi dan distribusi lalu lintas, faktor lingkungan). Kapasitas dinyatakan dalam satuan mobil penumpang (smp). Untuk jalan dua jalur dua arah, kapasitas ditentukan untuk arus dua arah (kombinasi dua arah), tetapi untuk jalan dengan banyak lajur, arus dipisahkan per arah dan kapasitas ditentukan per lajur
Tingkat Pelayanan
Tingkat pelayanan menyatakan tingkat kualitas lalu lintas yang sesungguhnya terjadi. Tingkat ini dinilai oleh pengemudi atau penumpang berdasarkan tingkat kemudahan dan kenyamaan mengemudi. Penilaian kenyamanan mengemudi dilakukan berdasarkan kebebasan memilih kecepatan dan kebebasan bergerak (maneuver).
Tingkat pelayanan ini dibedakan menjadi 6 kelas yaitu dari A untuk tingkat yang paling baik sampai dengan tingkat F untuk kondisi yang paling buruk.

Kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan Margonda Raya Kota Depok terjadi pada tiga tempat utama yaitu didepan kanpus D Universitas Gunadarma, depan Mall Depok dan depan Terminal depok baik arah ke Depok ataupun kearah Jakarta. Berdasarkan masalah dari kemacetan sepanjang jalan Margonda Raya tersebut didapatkan solusi dan saran dari masalah adalah sebagai berikut:
Saran :
1. Ditutupnya median jalan dengan pagar agar pejalan kaki tidak menyebrang ditempat tersebut sehingga fasilitas yang ada yaitu jembatan penyebrangan dapat berfungsi sebagaimana mestinya (untuk lokasi survey didepan Mall Depok dan didepan terminal Depok).
2. Ditertibkannya angkutan kota agar berhenti sesuai dengan tempatnya (halte), dibangunnya sebuah halte pemberhentian dan pada setiap titik lokasi survey dibuat jalur lambat/ tempat pemberhentian angkutan kota (Storage).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar